Manusia
dan Keadilan 2
1.
Perhitungan (HISAB) dan pembalasan
Beriman
kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan salah satu rukun iman
yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Untuk mencapai kesempurnaan iman
terhadap hari Akhir, maka semestinya setiap muslim mengetahui peristiwa dan
tahapan yang akan dilalui manusia pada hari tersebut. Diantaranya yaitu masalah
hisab (perhitungan) yang merupakan maksud dari iman kepada hari Akhir. Karena,
pengertian dari beriman kepada hari kebangkitan adalah, beriman dengan hari
kembalinya manusia kepada Allah lalu dihisab. Sehingga hakikat iman kepada hari
kebangkitan adalah iman kepada hisab ini.
Pengertian
hisab disini adalah peristiwa Allah menampakkan kepada manusia amalan mereka di
dunia dan menetapkannya. Atau Allah mengingatkan dan memberitahukan kepada
manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, Allah akan menghisab seluruh makhluk dan
berkhalwat kepada seorang mukmin, lalu menetapkan dosa-dosanya. Syaikh Shalih
Ali Syaikh mengomentari pandangan ini dengan menyatakan, bahwa inilah makna al
muhasabah (proses hisab). Demikian juga Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan,
muhasabah adalah proses manusia melihat amalan mereka pada hari Kiamat.
Hisab
menurut istilah aqidah memiliki dua pengertian :
Pertama
: Al ‘Aradh (pemaparan)
1) Pengertian
umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan
menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah
hisabnya dan yang tidak dihisab.
2) Pemaparan
amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak
dibuka dihadapan orang lain) dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini
dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir) .
Kedua
: Munaqasyah, dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan
keburukan .
Untuk
itulah Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan sebagai perhitungan
antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian
munaqasyah. Juga dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan
amalan terhadap pelakunya.
2.
Pengertian pemulihan nama baik
Nama
baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak
tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih
jika ia menjadi teladan bagi orang atau tetangga di sekitarnya. Penjagaan nama
baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan
nama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya.
Yang
dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa,
cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan
yang dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik
adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya, bahwa apa yang diperbuatnya
tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik.
Untuk memulihkan nama baik manusia harus taubat atau minta maaf.
Taubat
dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan,
ramah, berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepada sesama
hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrih, takwa
terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur
selalu dipupuk.
3.
Hakikat nama baik
Pada
hakikatnya pemulihan nama baik itu adalah kesadaran yang disadari oleh manusia
karena dia melakukan kesalahan di dalam hidupnya, bahwa perbuatan yang dia
lakukan tersebut tidak sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan yang ada di
negeri ini, selain itu perbuatan yang menyebabkan hilangnya nama baik seseorang
adalah karena perbuatan yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan aklakul
karimah (akhlak yang baik menurut sifat-sifat Rasulullah SAW).
4.
Pengertian pembalasan
Pembalasan
ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. reaksi itu dapat berupa perbuatan
yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku
yang seimbang. Sebagai contoh, A memberikan makanan kepada B. Di lain
kesempatan B memberikan minuman kepada A. Perbuatan tersebut merupakan
perbuatan serupa, dan ini merupakan pembalasan.
Dalam
Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan.
Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari
perintah Tuhanpun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun
pembalasan yang seimbang. yaitu siksaan di neraka.
5.
Sebab-sebab pembalasan
Pembalasan
terjadi karena adanya sesuatu kesalahpahaman atau tindakan yang seharusnya
tidak dilakukan, maka antara satu kubu dengan kubu yang lain menimbulkan rasa
dendam yang sama dengan perlakuan yang sejenis. Contoh lina mencuri uang
adiknya, dan pada akhirnya kecurangan lina terbongkar oleh adiknya, maka
adiknya akan membalas dengan balasan yang setimpal. Penyebab tejadinya
pembalasan adalah karena terjadinya tingkat rasa balas dendam karena sakit hati
yang terlalu tinggi, sehingga selalu teringat dan menyebabkan seseorang ingin
melakukan pembalasan
6.
Contoh-contoh suatu pembalasan
Dalam
suatu pekerjaan adanya rasa saling kecemburuan antar karyawan yang dimana hal
itu secara tidak langsung mengambil objek yang di kerjakan, maka dari semua itu
akan timbul di dalam dirinya yang hanya mementingkan objek itu sendiri, artinya
suatu pembalasan terjadi karena adanya seseorang yang memulai secara curang
atau licik, maka pihak yang bersangkutan akan memulai pembalasannya dari apa
yang sudah di ambil.
Referensi
Social Plugin